ARTIKEL KESEHATAN

Kepemimpinan Kesehatan Masyarakat Selama Pandemi COVID-19

 Kepemimpinan Kesehatan Masyarakat Selama Pandemi COVID-19.

Kebutuhan akan pelatihan dan keahlian dalam kepemimpinan kesehatan masyarakat bukanlah konsep baru, laporan Institute of Medicine yang menyerukan kompetensi yang lebih besar dalam praktisi kesehatan masyarakat diterbitkan lebih dari 30 tahun yang lalu, juga bukan globalisasi atau pandemi. Namun, dalam lingkungan media sosial yang eksplosif saat ini dan masalah sosial yang kritis pada titik kritis, wajar untuk mengatakan bahwa kepemimpinan kesehatan masyarakat tidak pernah lebih penting.

Apa yang kita alami sekarang dengan pandemi COVID-19 adalah :

  1. Ekonomi kesehatan atau determinan sosial kesehatan (SDOH), yang meliputi kecukupan gizi, perumahan, dan transportasi, belum lagi dampak hilangnya upah dan jaminan kesehatan
  2. Tantangan kesehatan mental, termasuk stres dan kesenjangan kesehatan, serta konsekuensi yang tidak diinginkan dari isolasi sosial di masyarakat
  3. Kesehatan fisik, termasuk konsekuensi langsung dan jangka panjang dari infeksi SARS-CoV-2, terutama eksaserbasi kondisi kronis yang mendasarinya.

Jaringan Kepemimpinan Kesehatan Masyarakat Nasional membentuk kerangka kerja untuk memastikan para pemimpin kesehatan masyarakat yang terlatih dan efektif. Di antara empat kompetensi inti teratas adalah transformasi kepemimpinan yang diwujudkan dengan :

  • Kepemimpinan visioner
  • Memunculkan rasa tanggung jawab kepemimpinan
  • Menjadi agen perubahan yang efektif

Baru-baru ini, sebuah studi yang melihat efektivitas tim kepemimpinan dalam kesehatan masyarakat menemukan bahwa kompetensi yang paling relevan bagi eksekutif departemen kesehatan lokal adalah “interaksi dengan sistem yang saling terkait.

Apa yang Kita Butuhkan Sekarang dari Kesehatan Masyarakat: Empat Persyaratan Kepemimpinan

Saat komunitas global menunggu pengobatan yang efektif dan ketersediaan vaksin yang tersebar luas, yang kita butuhkan adalah strategi pengurangan risiko yang efektif dan kepemimpinan kesehatan masyarakat yang kuat. Berikut adalah empat saran untuk membawa kita ke sana.

  1. Komunikasi Luar Biasa. Manajemen risiko didasarkan pada komunikasi. Ada kelangkaan data, kurangnya transparansi, misinformasi, dan disinformasi selama pandemi COVID. Selain itu, kami tidak hanya membutuhkan data, kami membutuhkan pemahaman. Kesehatan masyarakat perlu mendidik (dan mendidik kembali) diri mereka sendiri dan publik apa yang kita ketahui, apa yang tidak kita ketahui, mengapa kita tidak mengetahuinya, dan kapan kita berpikir kita akan mengetahuinya. Kesehatan masyarakat harus menjadi "tujuan", yang ada di luar landscape politik, untuk mendapatkan informasi yang akurat dan tepercaya.
  2. Kemitraan dan Kepercayaan. Kesehatan masyarakat perlu membangun kemitraan dan membangun kepercayaan dengan organisasi masyarakat, sistem perawatan kesehatan, lembaga pemerintah lainnya, sektor swasta, dan, yang paling penting, masyarakat, sehingga ketika informasi tersedia, informasi itu dapat diterima. Kesehatan masyarakat perlu mengantisipasi hal yang tidak terduga (misalnya, konsekuensi sekunder dari jarak sosial termasuk penggunaan narkoba yang memburuk dan peningkatan risiko kekerasan dalam rumah tangga).
  3. Mengelola Ketakutan. Ketakutan datang dari yang tidak diketahui; orang membenci ketidak jelasan informasi. Dengan tidak adanya informasi tepercaya, orang akan mendengarkan siapa saja yang berbicara dengan lantang. Pesan yang jelas, akurat, tepat waktu, dan konsisten sangat penting.
  4. Fokus pada Infrastruktur. Untuk menjadi sumber data yang akurat, diperlukan sistem pendataan yang lebih baik. Indonesia memiliki ekosistem data yang terfragmentasi yang tidak memiliki interoperabilitas bahkan dalam sektor kesehatan masyarakat dan perawatan kesehatan. Kita harus terus mengembangkan kemampuan dan infrastruktur TI kesehatan kita dan memeliharanya setelah pandemi ini selesai. Kita harus terus memperluas dan memperkuat koordinasi telehealth dan perawatan, pelacakan kontak dan penjangkauan, pendaftaran vaksin, dan integrasi sumber data SDOH non-tradisional semuanya bergantung pada TI kesehatan. Pandemi adalah bagian berulang dari ekosistem global kita, dan patogen baru yang penting bagi kesehatan masyarakat akan terus muncul. Dan apa yang kita bangun sekarang membantu kita tetap sehat dan baik.

Kemampuan kesehatan masyarakat untuk merespons dengan cepat dan efektif harus ada sebelum krisis; mengembangkan sistem respons selama pandemi ibaratlan seperti membangun pesawat saat Anda terbang.

 

Writer: Lazarus Elmanata (Mahasiswa salah satu PTS di Indonesia)

PERSIAPAN KESEHATAN SEBELUM BERANGKAT KE TANAH SUCI

Ibadah haji adalah kewajiban bagi umat Islam yang harus dilakukan setidaknya sekali seumur hidup oleh semua umat Muslim dewasa yang secara fisik dan finansial mampu melakukan perjalanan ke Tanah Suci. Perbedaan antara haji dan umroh sendiri terletak pada waktu dan tempat pelaksanaannya. Jika ibadah haji hanya dapat dilakukan antara tanggal 1 Syawal hingga 13 Zulhijah, maka umroh dapat dilaksanakan sewaktu-waktu kecuali pada hari tertentu seperti hari Arafah dan hari Tasyrik.

Ibadah haji dan umroh merupakan ibadah “fisik”. Hal ini dikarenakan sebagian besar pelaksanaan ibadah haji dan umroh banyak dengan berjalan kaki sehingga kesehatan secara fisik harus dijaga.

Sebelum berhaji atau umroh, selain vaksin, kesehatan juga perlu diperhatikan. Tujuan dari persiapan tersebut agar seluruh rangkaian prosesi ibadah dapat berjalan lancar. Selain itu, dengan kondisi tubuh yang prima, diharapkan calon Jemaah juga mampu beradaptasi dengan cuaca di Arab Saudi yang jauh berbeda dengan di Indonesia.

Jika calon jemaah memiliki kondisi kesehatan yang memerlukan perhatian khusus, contohnya penyakit kronis, konsultasikan dengan dokter apakah memungkinkan untuk bisa bepergian ke Tanah Suci.

Calon Jemaah yang tergabung dalam biro perjalanan haji dan umroh sebaiknya juga berkonsultasi dengan dokter dari penyelenggara ibadah tersebut, mengenai riwayat kesehatan dan perawatan kesehatan apa saja yang dibutuhkan.

Lakukanlah juga medical check up untuk mengetahui status kesehatan sebelum keberangkatan. Hal ini dapat mencegah, mendeteksi dan mengobati masalah kesehatan yang mungkin timbul. Jika tubuh dalam kondisi sehat dan prima, kekhusyu’an ibadah di Tanah Suci dapat diraih.

Lakukanlah juga vaksinasi sebelum menunaikan ibadah haji dan umroh. Vaksinasi meningitis wajib dilakukan sebelum berangkat ke Tanah Suci untuk menghindari wabah penyakit meningitis. Di Tanah Suci terdapat jutaan Jemaah haji dan umroh dari berbagai negara, sehingga resiko penularan penyakit sangat besar. Hal inilah yang harus dicegah. Dikarenakan pentingnya vaksinasi ini, maka sertifikat vaksinasi internasional (ICV) yang dikeluarkan oleh lembaga yang tersertifikasi merupakan salah satu syarat agar visa haji atau umroh dapat dikeluarkan. Vaksin tambahan lain yang dapat diberikan salah satunya adalah influenza. Pemberian vaksinasi ini harus sudah dilakukan paling tidak dua minggu sebelum keberangkatan.

Dan sebelum berangkat ke Tanah Suci, jangan lupa membawa obat pribadi. Jika calon jemaah masih dalam pengobatan, bawalah obat yang cukup untuk persediaan selama disana. Jangan lupa sertakan surat keterangan dari dokter jikalau petugas beacukai menanyakan perihal obat-obatan tersebut.

Terakhir, tinggalkanlah pola hidup yang tidak sehat. Bagi Jemaah haji atau umroh yang memiliki kebiasaan merokok, sebaiknya segera berhenti. Dengan berhenti merokok, paru-paru dan sistem pernafasan kita akan menjadi lebih sehat dan dapat lebih kuat menghadapi cuaca dan suhu ekstrim yang ada di Tanah Suci.

 

 

 

 

Oleh: dr. Retno Ayu Nurmaladewi

PENYEBAB, GEJALA, PENCEGAHAN DAN PENGOBATAN DBD

Penyebab Demam Berdarah: Kenapa Seseorang bisa Terkena DBD?

Nyamuk Demam Berdarah

Virus dengue ini menyerang seseorang melalui perantara nyamuk Aedes eegypti dan Aedes albopictus (bahasa latin). Ciri-ciri nyamuk yang menyebarkan virus dengue ini adalah berwarna hitam dengan belang-belang putih di tubuhnya.

Kedua jenis serangga ini banyak ditemui berkembang biak di wilayah iklim tropis, termasuk Indonesia dan negara-negara Afrika. Tiap tahun diketahui banyak penderita demam berdarah. Indonesia sendiri jadi salah satu yang tertinggi dengan jumlah kasus mencapai 112.511 penderita DBD pada tahun 2013, dan sebanyak 871 orang meninggal akibat penyakit DBD ini.

Di tahun selanjutnya, terdapat 71.688 kasus DBD terjadi dengan jumlah orang yang meninggal sebanyak 641 penderita demam berdarah. Kendati telah mengalami penurunan dari segi jumlah kasus yang terjadi, namun angka ini masih tetap menempatkan Indonesia sebagai negara dengan kasus DBD tertinggi kedua setelah Brasil.

Kedua nyamuk DBD atau penyebar virus demam berdarah ini justru berkembang biak di genangan air yang jernih di sekitar pemukiman padat penduduk. Nyamuk ini biasanya menghisap darah di waktu pagi dan sore hari.

 

Gejala Demam Berdarah (DBD), Penyebab Penyakit DBD, Pertolongan Pertama, dan Pengobatannya

Masyarakat Indonesia secara luas sudah cukup tahu yang namanya penyakit demam berdarah. Penyakit ini biasa disebut Demam Berdarah Dengue (DBD) atau penyakit yang disebabkan oleh gigitan nyamuk. Penyakit ini dikenal dengan gejalanya yang sangat khas, yaitu suhu tubuh tinggi atau panas sekaligus nyeri sendi, sakit kepala, otot, tulang, dan sakit area belakang mata.

Meski demikian, penyebutan demam berdarah dalam terminologi medis tidak lah tepat, atau bisa dikatakan salah kaprah. Sebab sebenarnya DB (demam berdarah) itu adalah kondisi yang menjadi komplikasi dari deman dengue (dengue fever) yang memburuk.

DB sendiri dalam istilah medis disebut sebagai dengue hermorrhagic fever. Tetapi karena sudah familier (terdengar akrab) maka pembahasan penyakit yang satu ini akan tetap dengan penyebutan istilah DBD untuk merujuk pada penyakit yang sama.

 

Kenali dan Ketahui Gejala Demam Berdarah

Gejala dan Tanda DBD

 

Penyakit DBD ini bisa menyerang siapa saja, baik anak-anak maupun orang dewasa. Gejala demam berdarah pada anak maupun orang dewasa sejatinya mudah dikenali. Secara umum gejala DBD bisa dikenali baik secara fisik maupun bukan, diantaranya:

  1. Suhu tubuh penderita DBD sangat tinggi bisa mencapai 41 derajat celcius
  2. Nafsu makan kurang bahkan hilang selera
  3. Badan terasa lelah, lesu dan capek terus menerus
  4. Mual hingga muntah
  5. Wajah berwarna kemerahan
  6. Tenggorokan sakit
  7. Kepala pusing
  8. Kelenjar getah bening bengkak

Bagaimana gejala DBD pada anak? Selain mengalami gejala demam berdarah di atas, biasanya anak yang menderita penyakit DBD selalu disertai dengan munculnya bintik-bintik merah di kulit.

Untuk beberapa kasus gejala DBD, terkadang hidung dan gusi penderita juga mengalami pendarahan dengan intensitas ringan. Masa inkubasi penderita penyakit akibat nyamuk DBD ini dalam rentang waktu antara 4 hingga 10 hari sejak gejala awal mulai terindikasi.

Pada saat masa inkubasi inilah biasanya terjadi kesulitan untuk membedakan mana yang sebenarnya demam berdarah atau hanya sekedar sakit flu biasa.

 

Pertolongan Pertama dan Pengobatan Bila Terserang DBD

Minum air mineral

Bila terjangkit penyakit DBD ini, langkah pertama apa yang perlu dilakukan untuk mendapatkan perawatan dan pengobatan lebih lanjut?

Cara terbaik tentu pergi ke dokter apabila menemukan gejal-gejala seperti di atas.

Guna memperkuat diagnosa, dokter biasanya akan mengarahkan pasien untuk melakukan tes darah. Dari contoh (sample) darah pasien ini akan mudah ditemukan jenis penyakitnya. Seorang pasien dinyatakan terserang DBD apabila hasil pemeriksaan tes darah tergolong daalam kriteria sebagai berikut:

  • Terjadi pengentalan darah atau disebut hemokonsentrasi. Ini terjadi karena perembesan plasma, dengan nilai Hct (Hematokrit) berkisar antara 20% dari saat normal
  • Trombosit di bawah 150.000/milimeter kubik, dengan angka normal berkisar 150.000-450.000/milimeter kubik. Kondisi ini dikenal dengan istilah trombositopenia

Di fase awal penyakit DBD ini menyerang, banyak literatur menyebutkan bahwa demam ini memang bisa sembuh dengan teknik perawatan di rumah. Ini adalah masa ketika masih belum memasuki tahapan stadium pertama atau berubah dari demam dengue menjadi dengue dan DSS. Di fase awal atau ringan bisa melakukan perawatan sendiri, seperti:

  • Istirahat yang cukup
  • Konsumsi parasetamol dan acetaminophen sesuai dosisnya untuk meredakan demam dan nyeri
  • Hindari aktivitas yang berat hingga kondisi benar-benar pulih
  • Konsumsi banyak air mineral untuk mencegah dehidrasi, karena suhu tubuh tinggi dan muntah
  • Umumnya dokter melarang konsumsi obatan-obatan seperti ibuprofennaproxen sodium, juga aspirin karena bisa memicu pendarahan di dalam.

 

Cara Pencegahan Demam Berdarah

Fogging

Untuk mencegah terjangkitnya penyakit demam berdarah, maka perlu memperhatikan dan melakukan beberapa hal sebagai berikut:

  • Budayakan hidup bersih, bersama-sama menjaga kebersihan lingkungan sekitar
  • Menggunakan losion anti nyamuk, dengan kandungan N-diethylmetatoluamide yang secara umum terbukti efektif, tetapi penggunaan losion tdak dianjurkan untuk anak di bawah usia 2 tahun
  • Pasang kawat anti nyamuk di bagian ventilasi rumah
  • Bersihkan tempat bersarang nyamuk, dengan menutup penampungan air yang berpotensi menjadi sarang jentik nyamuk. Taburkan serbuk abate agar jentik nyamuk mati
  • Membasmi nyamuk dengan Fogging (pengasapan). Sebagai langkah sterilisasi lingkungan dan menekan populasi nyamuk, maka fogging cukup efektif menekan jentik nyamuk untuk tumbuh dan berkembang biak.

 

Sumber : https://www.cermati.com/artikel/gejala-demam-berdarah-dbd-penyebab-penyakit-dbd-pertolongan-pertama-dan-pengobatannya

PENTINGNYA MEDICAL CHECK UP

   

 

Kesehatan merupakan sesuatu yang penting dan sangat bernilai. Kesehatan yang prima dan optimal dapat dicapai dengan dengan investasi kesehatan sejak dini. Jika Anda pernah mendengar pepatah mencegah lebih baik daripada mengobati dari orangtua atau saat Anda bersekolah, maka pepatah itu benar adanya. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan medical check up secara rutin.

Seberapa penting medical check up? Pertanyaan itu mungkin banyak muncul di benak kita. Rata-rata memang bagi sebagian besar orang di Indonesia, pemeriksaan kesehatan tubuh secara lengkap mungkin hanya dilakukan saat harus memenuhi persyaratan administrasi seperti administrasi pendidikan, wajib militer, calon pegawai negeri sipil, dan lain-lain.

Banyak anggapan keliru yang mengatakan bahwa medical check up tidak perlu dilakukan karena seseorang tidak merasakan sakit. Namun jangan salah, tidak merasakan sakit belum tentu bahwa Anda benar-benar “tidak sakit”.  Secara umum, dikatakan “sakit” jika ada keluhan yang muncul. Padahal dari sisi medis, kondisi sakit didasarkan ada atau tidaknya penyakit.

Saat seseorang mengatakan bahwa dirinya “tidak sakit”, ada dua kemungkinan. Pertama, dirinya memang tidak terkena penyakit. Kedua, dari sisi medis sebenarnya sudah ada penyakit hanya saja gejalanya belum nampak.

Di masa lalu, sebagian besar tim medis menganjurkan medical check up kesehatan tahunan. Namun baru-baru ini, American Medical Association dan grup kesehatan serupa lainnya menyarankan bahwa pemeriksaan medis yang disebut Periodic Health Assessments or Examinations (Penilaian atau Pemeriksaan Kesehatan Periodik) dapat dilakukan setiap 5 tahun (untuk orang dewasa yang berusia lebih dari 18 tahun) dan untuk diatas usia 40 tahun dilakukan setiap 1-3 tahun sekali.

Sebagai langkah pencegahan, medical check up dapat dilakukan untuk mengetahui kondisi kesehatan, terkini guna mempersiapkan bentuk penanganan secara dini jika ditemukan adanya penyakit atau gangguan kesehatan. Selain itu, medical check up juga berguna untuk mengetahui risiko-risiko penyakit yang mungkin bisa muncul di kemudian hari, serta mendorong seseorang untuk beralih ke gaya hidup sehat.

Jadi, jangan ragu untuk memeriksakan kesehatan anda karena banyak manfaat yang di dapat melalui medical check up.

 

 

 

 

Oleh: dr. Retno Ayu Nurmaladewi

PENCEGAHAN PENYAKIT GENETIK ( KETURUNAN )

 

 

Salah satu faktor risiko penyakit diabetes, darah tinggi dan juga kanker adalah faktor genetik (keturunan). Secara sederhana, yang disebut dengan faktor risiko adalah suatu faktor yang meningkatkan risiko seseorang mengidap penyakit tertentu. Perlu diperhatikan bahwa faktor risiko BUKANLAH penyebab langsung timbulnya penyakit. 

Dengan demikian, yang diturunkan adalah faktor risiko genetiknya, bukan penyakitnya secara langsung. Faktor risiko genetik biasanya merupakan suatu variasi atau mutasi urutan DNA, yang berbeda-beda antara etnisitas satu dan yang lainnya dan antara penyakit satu dan yang lainnya.

Jika seseorang memiliki faktor risiko genetik untuk penyakit tertentu, maka ia memiliki kerentanan lebih tinggi dibanding orang lain untuk menderita penyakit tersebut.

Faktor risiko genetik tidak dapat diubah (setidaknya untuk saat ini). Namun, faktor risiko genetik hanya satu dari berbagai faktor resiko lain, seperti lingkungan dan pola hidup. Secara umum, penting untuk dipahami bahwa penyakit-penyakit tersebut dapat dikendalikan dan dicegah. Kunci untuk melakukan keduanya adalah mengelola dan mengendalikan faktor risiko lain yang dapat memicu berbagai masalah tersebut.

Olahraga secara rutin telah terbukti mampu mengurangi risiko penyakit-penyakit tersebut. Oleh karena itu, melakukan olahraga intensitas ringan hingga sedang selama 30 menit atau lebih setiap hari benar-benar dapat membantu menjaga kesehatan Anda, bahkan jika gen Anda rentan terhadap kondisi tersebut. Cara yang paling sederhana untuk mulai bergerak lebih aktif adalah dengan membiasakan berjalan kaki. Mudah, murah, dan tidak membebani.

Sejumlah penelitian telah menunjukkan bahwa diet tinggi serat, rendah garam, gula, dan lemak dapat mempengaruhi kesehatan Anda. Mulai sekarang perbanyaklah mengonsumsi makanan segar, bukan makanan dalam bentuk kemasan. Bila perlu, Anda juga bisa melakukan program diet. Konsultasikan dengan ahli gizi untuk membantu Anda merencanakan diet yang sesuai dengan kebutuhan Anda.

Selain itu, hindarilah juga rokok, alkohol dan stress. Jika stress dibiarkan terus menumpuk dan tidak diatasi, kadar hormon stress berlebih dalam tubuh lama-kelamaan bisa memicu penyakit-penyakit terkait dengan faktor resiko genetik.

Ada banyak cara murah meriah untuk menghilangkan stress. Mulai dari olahraga, mendengarkan musik, menonton film, meditasi di tempat tenang, atau tidur siang. Pilihlah yang Anda sukai dan bisa dinikmati dengan santai.

Berbagai cara yang sudah disebutkan di atas memang dapat membantu mengurangi risiko Anda mewarisi penyakit-penyakit tersebut. Namun, hal-hal tersebut bukanlah jaminan Anda terbebas dari penyakit ini. Oleh karena itu, Anda tetap perlu melakukan pemeriksaan kesehatan (medical check up) secara rutin.

Selain itu, ingatlah bahwa untuk menjauhkan diri dari risiko penyakit, Anda juga butuh bantuan dari ahlinya. Jangan ragu apalagi sungkan untuk cek ke dokter ketika Anda mencurigai ada sesuatu yang salah dengan kesehatan Anda. Anggap saja dokter Anda sebagai seorang mitra atau sahabat yang selalu siap sedia membantu hidup Anda lebih sehat.

Mencegah penyakit adalah komitmen seumur hidup. Apalagi jika Anda telah memiliki satu atau lebih faktor resiko. Namun, jangan pernah menyerah! Manfaatkan momen ini sebagai motivasi untuk mengubah gaya hidup Anda jadi lebih sehat demi terhindar dari berbagai penyakit.

 


 

Oleh: dr. Retno Ayu Nurmaladewi